Dari `Abdullah bin Ka'ab bin Malik, dia
adalah panglima Ka'b ra. dari anaknya ketika ia buta, di mana dia
berkata: "Saya mendengar Ka'ab bin Malik ra. menceriterakan tentang
peristiwa tertinggalnya dari Rasulullah saw. dalam peperangan Tabuk, di
mana Ka'b ber-kata: "Saya tidak pernah tertinggal dari Rasulullah saw.
dalam salah satu peperangan pun kecuali dalam peperangan Tabuk hanya
saja saya tertinggal dalam peperangan Badr, namun tidak ada seorang pun
yang disalahkan waktu tertinggal dalam perang Badr karena Rasulullah
saw. keluar hanya untuk menghadang kafilah Quraisy namun Allah Ta'ala
mempertemukan mereka dengan musuhnya tanpa terduga sebelumnya. Saya
telah menyaksikan bersama-sama dengan Rasulullah saw. pada malam `Aqabah
ketika kami berbai'at untuk masuk Islam, dan saya tidak senang kalau
malam `Aqabah itu dipersamakan dengan seperti perang Badr walaupun
perang Badr itu banyak disebut-sebut orang.
Kemudian ceritera tentang
ketertinggalanku dari Rasulullah saw. dalam perang Tabuk yaitu
bahwasanya saya belum pernah merasa lebih kuat dan lebih mampu
sebagaimana keadaan saya se waktu tertinggal (tidak ikut) dalam perang
Tabuk. Demi Allah, sebelumnya saya tidak pernah menyediakan dua
kendaraan untuk berperang kecuali menjelang peperangan Tabuk itu; dan
sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw, bila akan berperang beliau
menyamarkan dengan tujuan lain. Namun di dalam perang Tabuk ini
Rasulullah saw. tidak menyamar-nyamarkannya karena Rasulullah saw. akan
berperang dalam musim yang sangat panas dan akan menempuh perjalanan
yang sangat jauh serta akan menghadapi musuh yang sangat besar. Oleh
karenanya Rasulullah saw. menekankan perintahnya kepada kaum muslimin
untuk benar-benar siap dan bersungguh-sungguh di dalam mereka berperang.
Beliau menjelaskan kepada mereka tujuan yang sebenarnya. Kaum muslimin
yang mengikuti Rasulullah saw. di dalam peperangan itu sangat banyak
sehingga tidak ada seorang penulis pun yang berkeinginan untuk mencatat
nama-nama mereka. Ka'b mengatakan, seandainya seseorang berkehendak
untuk tidak ikut dalam peperangan itu ia pasti akan mengira bahwa hal
itu tidak akan diketahui selama tidak ada wahyu dari Allah Ta'ala yang
menjelaskan hal itu. Rasulullah saw. melaksanakan perang Tabuk itu pada
musim buah, sedang saya sebenarnya lebih cenderung untuk mengikuti
perang itu. Rasulullah saw. bersama kaum muslimin telah bersiap-siap dan
saya merencanakan esoknya saja, kemudian saya pulang tetapi saya belum
juga mempersiapkan diri sama sekali serta saya berkata dalam hati: "Saya
mampu untuk ikut berperang kapan pun saya berkehendak". Akan tetapi
keadaan semacam itu terus berlarut-larut sehingga Rasulullah saw.
bersama kaum muslimin sudah siap untuk berangkat, tetapi saya belum juga
terdorong untuk mengikutinya. Saya pulang tetapi saya belum juga
mempersiapkan diri.
Hal yang demikian itu berlarut-larut terus sehingga berangkatlah pasukan yang berperang itu; dan saya masih punya pendirian bahwa saya masih bisa mengejar pasukan itu. Tetapi alangkah celakanya diri saya karena berbuat seperti itu kemudian saya tidak bisa mengikuti peperangan itu. Setelah Rasulullah saw. berangkat perang saya merasa sedih sekali kalau keluar tidak mendapatkan seorang pun di antara kaum muslimin, saya hanya mendapatkan orang-orang yang munafik, atau orang-orang lemah yang memang diberi kemurahan oleh Allah Ta'ala. Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut nama saya sehingga sampai di Tabuk. Sewaktu di Tabuk dan beliau sedang duduk-duduk bersama dengan kaum muslimin beliau bertanya: "Apa yang diperbuat oleh Ka'b bin Malik?" Seorang laki-laki dari Bani Salamah berkata: "Wahai Rasulullah, dia terhalang oleh kain mantelnya dan dia hanya melihat-lihat kain mantelnya itu". Kemudian Mu'adz bin Jabal ra. berkata kepada orang laki-laki dari Bani Salamah: "Jahat apa yang kau katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah kami tidak mengenal Ka'b bin Malik kecuali selalu berbuat baik". Rasulullah lantas terdiam, kemudian tiba-tiba terlihatlah bayang-bayang seorang laki-laki yang tidak begitu jelas karena terpengaruh adanya fatamorgana, maka Rasulullah saw. bersabda: "Itu adalah Abu Khaitsamah".
Benarlah apa yang disabdakan oleh beliau di mana yang datang adalah Abu Khaitsamah Al Anshary yaitu seseorang yang pernah bersedekah satu sha' (± 21/2 kg) korma sewaktu dicela oleh orang-orang munafik. Ka'b berkata lagi: "Setelah ada berita bahwa Rasulullah saw. telah datang dari Tabuk maka datanglah kesedihanku dan saya hampir saja berdusta untuk menceriterakan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku karena saya ingin menghindari kemurkaan beliau dan saya sudah berusaha untuk meminta pendapat seluruh keluargaku dalam mencari alasan. Setelah ada yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. telah benar-benar datang maka hilanglah segala kebatilanku (di mana saya akan berdusta) karena saya yakin bahwa saya pasti tidak akan selamat selama-lamanya maka bagaimanapun juga saya harus mengatakan dengan sejujur-jujurnya. Pada pagi hari Rasulullah saw. datang, dan sudah menjadi kebiasaan bila beliau datang dari bepergian beliau shalat dua raka'at di masjid kemudian duduk berbincang-bincang dengan umat. Pada saat itu datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang untuk mengajukan alasan-alasan dan jumlahnya ada 80 orang lebih serta mereka mengucapkan sumpah, maka diterimalah alasan-alasan mereka dan beliau memohonkan ampun buat mereka dan masalah batin mereka beliau serahkan kepada Allah Ta'ala. Sewaktu saya menghadap beliau dan mengucapkan salam beliau senyum sinis seraya bersabda: "Mari ke sini". Saya pun datang mendekati sehingga saya duduk di hadapan beliau, beliau lantas bersabda kepada saya: "Apa yang menyebabkan kamu tidak ikut, bukanlah kamu telah mempersiapkan kendaraan?"
Hal yang demikian itu berlarut-larut terus sehingga berangkatlah pasukan yang berperang itu; dan saya masih punya pendirian bahwa saya masih bisa mengejar pasukan itu. Tetapi alangkah celakanya diri saya karena berbuat seperti itu kemudian saya tidak bisa mengikuti peperangan itu. Setelah Rasulullah saw. berangkat perang saya merasa sedih sekali kalau keluar tidak mendapatkan seorang pun di antara kaum muslimin, saya hanya mendapatkan orang-orang yang munafik, atau orang-orang lemah yang memang diberi kemurahan oleh Allah Ta'ala. Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut nama saya sehingga sampai di Tabuk. Sewaktu di Tabuk dan beliau sedang duduk-duduk bersama dengan kaum muslimin beliau bertanya: "Apa yang diperbuat oleh Ka'b bin Malik?" Seorang laki-laki dari Bani Salamah berkata: "Wahai Rasulullah, dia terhalang oleh kain mantelnya dan dia hanya melihat-lihat kain mantelnya itu". Kemudian Mu'adz bin Jabal ra. berkata kepada orang laki-laki dari Bani Salamah: "Jahat apa yang kau katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah kami tidak mengenal Ka'b bin Malik kecuali selalu berbuat baik". Rasulullah lantas terdiam, kemudian tiba-tiba terlihatlah bayang-bayang seorang laki-laki yang tidak begitu jelas karena terpengaruh adanya fatamorgana, maka Rasulullah saw. bersabda: "Itu adalah Abu Khaitsamah".
Benarlah apa yang disabdakan oleh beliau di mana yang datang adalah Abu Khaitsamah Al Anshary yaitu seseorang yang pernah bersedekah satu sha' (± 21/2 kg) korma sewaktu dicela oleh orang-orang munafik. Ka'b berkata lagi: "Setelah ada berita bahwa Rasulullah saw. telah datang dari Tabuk maka datanglah kesedihanku dan saya hampir saja berdusta untuk menceriterakan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku karena saya ingin menghindari kemurkaan beliau dan saya sudah berusaha untuk meminta pendapat seluruh keluargaku dalam mencari alasan. Setelah ada yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. telah benar-benar datang maka hilanglah segala kebatilanku (di mana saya akan berdusta) karena saya yakin bahwa saya pasti tidak akan selamat selama-lamanya maka bagaimanapun juga saya harus mengatakan dengan sejujur-jujurnya. Pada pagi hari Rasulullah saw. datang, dan sudah menjadi kebiasaan bila beliau datang dari bepergian beliau shalat dua raka'at di masjid kemudian duduk berbincang-bincang dengan umat. Pada saat itu datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang untuk mengajukan alasan-alasan dan jumlahnya ada 80 orang lebih serta mereka mengucapkan sumpah, maka diterimalah alasan-alasan mereka dan beliau memohonkan ampun buat mereka dan masalah batin mereka beliau serahkan kepada Allah Ta'ala. Sewaktu saya menghadap beliau dan mengucapkan salam beliau senyum sinis seraya bersabda: "Mari ke sini". Saya pun datang mendekati sehingga saya duduk di hadapan beliau, beliau lantas bersabda kepada saya: "Apa yang menyebabkan kamu tidak ikut, bukanlah kamu telah mempersiapkan kendaraan?"
Saya menjawab: "Wahai Rasulullah, demi
Allah seandainya saya duduk-duduk di hadapan penduduk dunia ini tetapi
bukan tuan yang saya hadapi niscaya saya dapat mengemukakan alasan untuk
menyelamatkan diri saya dari kemurkaannya, karena saya cukup bisa
berdebat, tetapi demi Allah saya yakin seandainya saya berdusta kepada
tuan yang mungkin tuan meridhai dan menerima alasan saya namun nanti
Allah akan memurkai saya lewat tuan. Dan seandainya saya menceriterakan
apa yang sebenarnya terjadi pada diriku niscaya tuan akan menyayangkan
diriku, tapi saya masih tetap mengharapkan kemaafan dari Allah Yang Maha
Mulia lagi Maha Agung. Demi Allah, sesungguhnya tidak ada alasan bagi
saya; dan demi Allah sesungguhnya saya merasa sangat kuat dan sangat
mampu sewaktu saya tidak ikut perang bersama tuan". Rasulullah saw.
bersabda: "Apa yang kamu katakan adalah suatu kejujuran; pergilah kamu
dan tunggulah keputusan Allah tentang dirimu".
Sewaktu saya pergi diikuti oleh
orang-orang Bani Salimah seraya berkata: "Demi Allah kami belum pernah
mengetahui kamu berbuat kesalahan sebelum ini, kenapa kamu tidak minta
maaf saja kepada Rasulullah saw. sebagaimana orang-orang lain yang tidak
ikut berperang juga meminta maaf dengan mengajukan alasan. Kalau
Rasulullah saw. sudah memberi ampun kepada kamu niscaya kesalahanmu akan
diampuni".
Ka'b bin Malik berkata: "Demi Allah,
mereka selalu menyalahkan sikapku sehingga saya akan bermaksud untuk
kembali kepada Rasulullah saw. dan akan mendustakan diriku sendiri;
tetapi kemudian saya bertanya kepada orang-orang Bani Salimah: "Apakah
ada seseorang yang menerima keputusan seperti saya ini?"
Mereka menjawab: "Ya, ada dua orang yang
mengatakan seperti apa yang kamu katakan dan keduanya itu mendapatkan
keputusan seperti keputusan yang diberikan kepadamu". Saya bertanya:
"Siapakah kedua orang itu?" Mereka menjawab: "Murarah bin Rabi'ah Al
`Amiry dan Hilal bin Umayyah Al Waqify". Ka'b bin Malik berkata: "Ketika
mereka menyebutkan nama dua orang yang shalih yang keduanya itu ikut
perang Badr kepada saya maka saya merasa agak tenang karena keduanya
adalah merupakan teladan pada perang Badr. Rasulullah saw. melarang para
sahabat untuk berkata-kata dengan salah seorang di antara kami bertiga
yang tidak ikut perang Tabuk. Maka orang-orang menjauhi kami sehingga
seolah-olah saya sangat terasing dan rasa-rasanya tidak betah lagi hidup
di dunia ini. Kami bertiga dikucilkan selama 50 hari. Adapun kedua
teman saya mereka tetap tinggal di rumah dan menangis terus-menerus.
Saya adalah yang termuda dan terkuat di antara ketiga orang itu, saya
tetap keluar dan ikut shalat ber-sama-sama kaum muslimin serta
mondar-mandir ke pasar juga; akan tetapi tidak pernah ada seorang pun
yang menyapa saya. Bahkan pernah saya mendekat Rasulullah saw. dan
memberi salam kepada beliau di mana waktu itu beliau sedang duduk
sehabis shalat, dalam hati kecilku timbul pertanyaan apakah beliau
berkenan membalas salam saya atau tidak. Kemudian saya langsung shalat
di depan beliau sambil melirik, ketika saya sedang shalat itu beliau
memandang diriku dan bila saya meliriknya beliau membuang muka.
Peristiwa yang demikian itu di mana kaum muslimin mengucilkan diriku
maka pada suatu sore saya menaiki dinding rumah Abu Qatadah, dia adalah
saudara sepupu saya dan dia adalah orang yang paling saya senangi.
Kemudian saya mengucapkan salam kepadanya tetapi demi Allah dia tidak
membalas salam saya itu, lantas saya berkata kepadanya: "Wahai Abu
Qatadah demi Allah saya ingin mendengar jawabanmu apakah kamu mengetahui
bahwa saya tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya saw.?" Abu Qatadah tidak
mau menjawabnya juga, maka saya duduk. Kemudian saya bertanya lagi
kepadanya tetapi dia tidak mau menjawabnya, kemudian saya duduk kembali
dan saya bertanya lagi tetapi dia tetap tidak mau menjawabnya. Tetapi
akhirnya dia menjawab juga yaitu dengan ucapan: "Allah dan Rasul-Nya
yang lebih mengetahui". Maka mengucurlah air mataku dan saya segera
kembali yaitu dengan naik dinding rumah Abu Qatadah. Pernah suatu ketika
saya berjalan-jalan di pasar, tiba-tiba ada seorang petani dari negeri
Syam yang biasa menjual makanan di kota Madinah bertanya: "Siapakah yang
mau menunjukkan Ka'b bin Malik kepada saya?" Maka orang-orang menunjuk
diriku, lalu orang itu datang kepadaku dengan memberikan sepucuk surat
dari raja Ghassan, waktu itu saya sudah bisa menulis dan membaca
kemudian saya baca surat itu dan isinya antara lain:
"Selanjutnya ingin saya sampaikan bahwa
saya mendengar bahwa kawan-kawanmu sedang mengucilkan dirimu sedang
Allah tidaklah menjadikan dirimu itu seseorang yang hina dan bukanlah
orang yang pantas disia-siakan, oleh karena itu saya benar-benar
bersedia memberi bantuan kepadamu". Setelah selesai membaca surat itu
saya berkata: "Wah ini ada ujian baru lagi", kemudian saya bermaksud
untuk melemparkan surat tadi ke tengah-tengah api. Setelah sampai pada
hari keempat puluh di mana saya dikucilkan selama lima puluh hari dan
belum juga turun wahyu kemudian Rasulullah saw. mengutus seseorang untuk
datang kepadaku dan dia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah saw. menyuruh
kamu supaya berpisah dengan istrimu". Saya bertanya: "Apakah saya harus
menceraikannya atau apa yang harus saya perbuat?" Dia berkata: "Tidak,
janganlah kamu menceraikannya tetapi janganlah kamu mendekatinya
(menyetubuhinya)". Bersamaan dengan itu pula beliau mengutus utusan
untuk mendatangi kedua kawanku dengan menyampaikan perintah yang sama.
Kemudian saya berkata kepada istriku: "Pulanglah dulu kamu kepada
keluargamu dan tinggallah di sana bersama-sama mereka sehingga Allah
memberi keputusan tentang persoalanku ini". Kemudian istri Hilal bin
Umayyah datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata: "Wahai Rasulullah
sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah orang yang sudah sangat tua dan
lemah serta tidak mempunyai pelayan maka apakah kiranya tuan keberatan
bila saya melayaninya?" Beliau menjawab: "Tidak apa-apa, tetapi jangan
sekali-kali ia mendekati (menyetubuhi) kamu". Istri Hilal berkata: "Demi
Allah sesungguhnya Hilal sudah tidak punya nafsu lagi untuk berbuat
seperti itu, dan demi Allah ia selalu menangis semenjak ia menerima
keputusan itu sampai saat ini". Kemudian sebagian keluargaku mengatakan
kepadaku agar saya minta izin kepada Rasulullah saw. tentang masalah
istriku, karena beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk
tetap melayaninya. Maka saya menjawab: "Saya tidak akan minta izin
kepada Rasulullah saw. tentang masalah istriku, saya tidak tahu apa
jawab Rasulullah saw. seandainya saya minta izin tentang masalah istriku
karena saya adalah orang yang masih muda". Kemudian saya tinggal
sendirian selama sepuluh hari, maka genaplah sudah lima puluh hari
semenjak saya dikucilkan yakni semenjak orang-orang tidak boleh
berkata-kata dengan kami.
Sewaktu saya shalat subuh pada hari
kelima puluh di tingkat atas dari rumahku kemudian ketika saya sedang
duduk-duduk untuk merenungkan nasib sebagaimana yang disinyalir oleh
Allah Ta'ala, di mana saya merasa sangat sempit hidup di dunia ini
tiba-tiba saya mendengar suatu teriakan yang sangat keras di mana
terdengar suara: "Wahai Ka'b bin Malik ada kabar gembira buat kamu".
Maka saya segera sujud karena saya merasa Rasulullah saw. pasti telah
mengatakan kepada orang banyak bahwa Allah Yang Maha Mulia lagi Maha
Agung telah menerima taubat kami ketika beliau shalat subuh. Kemudian
orang-orang ingin menyampaikan ucapan selamat kepada kami dan ada juga
yang menyampaikan kabar gembira ini kepada kedua kawan saya. Ada seorang
laki-laki yang datang kepadaku dengan naik kuda dan ada juga yang
berjalan kaki bahkan ada juga yang naik ke atas bukit serta terdengarlah
suara yang kerasnya melebihi suara kuda. Ketika datang kepadaku orang
yang menyampaikan kabar gembira itu maka segera saya lepas pakaianku dan
saya berikan kepadanya karena gembiranya hatiku, padahal demi Allah
waktu itu saya tidak mempunyai pakaian selain itu sehingga saya meminjam
pakaian untuk menghadap kepada Rasulullah saw. Dan saya pun menghadap
Rasulullah saw. sedang orang-orang yang bertemu dengan saya semuanya
secara berkelompok-kelompok mengucapkan selamat atas diterimanya taubat
saya serta mereka berkata kepada saya: "Selamat atas diterimanya
taubatmu kepada Allah itu", sehingga saya masuk masjid. Di dalam masjid
Rasulullah saw. sedang duduk-duduk dengan dikelilingi oleh orang banyak
kemudian bangkitlah Thalhah ibnu `Ubaidillah ra. serta tergopoh-gopoh
untuk menjabat tangan dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah tidak
ada seorang pun dari sahabat Muhajirin yang bangkit selain Thalhah.
Ka'ab berkata: "Ketika saya mengucapkan
salam kepada Rasulullah saw. beliau bersabda sedang wajahnya nampak
berseri-seri karena gembira: "Bergembiralah kamu pada hari yang paling
baik sejak kamu dilahirkan oleh ibumu". Saya bertanya: "Dari Rasulullah
sendiri ataukah dari Allah?" Beliau menjawab: "Tidak, ini langsung dari
Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung". Rasulullah saw. bila sedang
gembira wajahnya bersinar seakan-akan wajahnya itu belahan dari bulan;
kita pun telah mengenal semuanya. Kemudian ketika saya duduk di hadapan
beliau saya berkata: "Wahai Rasulullah sebagai kesempurnaan taubatku
maka saya akan memberikan semua harta kekayaanku sebagai sedekah kepada
Allah dan rasul-Nya". Rasulullah saw. bersabda: "Jangan, tahanlah
sebagian dari harta kekayaanmu karena yang demikian itu lebih baik
bagimu". Saya berkata: "Sesungguhnya saya hanya akan menahan rampasan
perang yang saya dapat di Khaibar". Dan saya berkata lagi: "Wahai
Rasulullah sesungguhnya Allah Ta'ala me-nyelamatkan saya karena saya
jujur, dan sebagai kesempurnaan taubatku saya tidak akan berbicara
melainkan dengan jujur / benar selama hidupku". Demi Allah saya tidak
mengetahui seorang pun di antara kaum muslimin yang telah diuji oleh
Allah karena kejujurannya seperti saya menceriterakan keadaan saya
dengan sejujur-jujurnya di hadapan Rasulullah saw. Demi Allah saya tidak
pernah sengaja untuk berdusta semenjak mengatakan hal itu kepada
Rasulullah saw. sampai hari ini, dan saya berharap semoga Allah Ta'ala
memelihara diri saya selama hayat masih dikandung badan.
Kemudian turunnya firman Allah Ta'ala
yang artinya: "Allah telah benar-benar menerima taubatnya nabi,
sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar yang telah mengikutinya dalam
saat-saat kesukaran setelah hati segolongan dari mereka hampir
berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah
sangat kasihan dan sayang terhadap mereka".
"Dan terhadap tiga orang yang
ditangguhkan taubatnya sehingga mereka merasa sempit hidup di bumi yang
luas ini, padahal bumi ini luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula
terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada
tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian
Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya, kemudian
bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan beradalah kamu sekalian
beserta orang-orang yang benar". Ka'b berkata: "Demi Allah, saya belum
pernah merasakan nikmat Allah yang lebih besar selain dari petunjuk
Allah yang menjadikan saya masuk Islam, yang lebih besar dari kebenaran
saya di hadapan Rasulullah saw. sehingga saya tidak berdusta; seandainya
saya berdusta niscaya saya akan dibinasakan sebagaimana orang-orang
yang berdusta itu telah dibinasakan".
Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman
kepada orang-orang yang berdusta ketika di-sampaikannya wahyu kepada
mereka dengan nada yang sinis melebihi sinisnya se-seorang yang berkata
kepada sesamanya, di mana Allah Ta'ala berfirman yang artinya: "Mereka
(orang-orang munafik) bersumpah kepadamu dengan memakai nama Allah
apabila kamu kembali supaya kamu mengabaikan mereka (tidak menuntut
mereka). Maka abaikanlah mereka karena sesungguhnya mereka itu kotor
(najis) dan tempat mereka adalah neraka Jahannam sebagai balasan atas
apa yang mereka perbuat. Mereka bersumpah kepadamu supaya kamu suka
terhadap mereka; tetapi seandainya kamu suka terhadap mereka maka
sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang fasik".
Ka'ab berkata: "Kami bertiga tertinggal
dari urusan yang dihadapkan kepada Rasulullah saw. maksudnya yaitu kami
bertiga ditangguhkan taubatnya di mana mereka yang bersumpah dan
berjanji langsung diterima oleh Rasulullah saw. dan beliau menerima
lahir mereka serta memintakan ampun kepada Allah, tetapi masalah batin
beliau serwdsahkan kepada-Nya. Adapun tentang urusan kami bertiga maka
keputusan sepenuhnya diserahkan kepada Allah Ta'ala. Firman Allah Ta'ala
yang artinya: "Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan taubatnya",
maka yang dimaksud bukanlah kami tertinggal dari perang tapi beliau
menangguhkan taubat kami dan mendiamkan kami tidak seperti orang yang
bersumpah di waktu menyampaikan alasan kemudian beliau terima alasannya
itu". (H.R Bukhari dan Muslim)



0 comments:
Post a Comment